Gepeng, Guru Akuntansi yang Jatuh Cinta pada Seni

Tri Setyo Nugroho, seorang guru swasta di SMK 17 Kota Magelang, tidak pernah lelah membangun semangat tentang seni dan budaya kepada anak didiknya.
1933539IMG-20151125-121607780x390Meski dengan segala keterbatasan baik materi maupun fasilitas dari negara, guru muda yang akrab dipanggil Gepeng Nugroho itu cukup dikenal masyarakat seni di Kota Magelang dan sekitarnya berkat karya-karyanya yang selalu membuat takjub, mulai dari karya lukis, tari, drama sampai teater yang menjadi andalannya.

Gepeng tidak hanya menjadi pemeran utama. Dari tangan dinginnya, dia berhasil membangun kelompok teater yang cukup diperhitungkan di Kota Sejuta Bunga ini.

Kelompok teater yang diberi nama Teater Bias 17 itu tidak lain beranggotakan siswa-siswa SMK 17 Kota Magelang.

“Motivasi saya sederhana, saya ingin menyinergikan kecintaan seni dan budaya dalam diri saya kepada anak didik saya,” ujar Gepeng saat ditemui di sekolahnya, Rabu (25/11/2015).

Pria kelahiran Magelang 14 Desember 1981 silam itu mengaku bahwa cita-citanya semula bukanlah menjadi guru, apalagi guru yang mengajar seni dan budaya.

Meski menyukai dunia seni sejak di bangku SMA, ia justru mengambil jurusan akuntansi di Universitas Muhammadiyah Magelang. Namun dunia seni ternyata tidak bisa dipisahkan dari dirinya.

Selepas kuliah, dia justru sibuk berkarya seni sampai pada tahun 2006 dia diminta pihak SMK 17 Kota Magelang untuk mengajar.

“Saya ambil tawaran itu, lalu saya ambil kuliah lagi di bidang keguruan (akta IV), seharusnya saya mengajar mata pelajaran Akuntansi tapi hati saya sudah terlanjur menikmati seni dan budaya,” ucap pria asal Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, itu sambil tersenyum.

Gepeng mengatakan, visi misinya ‘nyemplung’ di dunia pendidikan, terutama di SMK swasta, karena ingin membuktikan bahwa siswa yang memiliki aktivitas seni maupun organisasi tidak kalah berprestasi dengan siswa yang unggul di bidang akademik.

“Sekolah kami adalah sekolah yang input-nya dari berbagai macam latar belakang, baik ekonomi apalagi prestasi akademik. Kalau mengandalkan akademik jujur kami kurang, oleh sebab itu kami mencoba menyeimbangkan antara otak kanan dan kiri dengan berbagai kegiatan seni, olahraga dan organisasi. Hasilnya ternyata bagus, siswa justru lebih termotivasi dan percaya diri untuk belajar,” papar suami dari Bunga Rimawati itu.

Berkat keuletannya, kelompok atau komunitas seninya sering diundang untuk pentas baik di tingkat lokal, provinsi hingga nasional.

Selain di sekolah, dia juga menggerakkan seni dan budaya di lingkungan rumahnya.

Sederet prestasi juga kerap ditorehkan bersama anak didiknya, mulai dari aktor teater terbaik se-Jawa Tengah 2015 sampai Produksi Film Terbaik se-Jawa Tengah 2015.

Gaji

Ayah dari Arkananta Ganendra Kawiswara ini mengakui bahwa perjuangannya membangun seni dan budaya di kalangan anak muda bukan hal mudah. Terkadang, keleluasannya dalam berimajinasi dan berkarya terbentur dengan kebijakan pemerintah.

Dia juga mengungkapkan bahwa gaji yang diterimanya sebagai guru swasta dan Wakil Kepala Sekolah masih jauh dari guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Setiap bulan, dia hanya menerima gaji sebesar Rp 1 juta. Jumlah ini masih dibawah UMK Kota Magelang sekitar Rp 1,3 juta.

Dalam hati kecilnya, Gepeng mengaku terkadang cemburu jika melihat guru-guru PNS yang mengejar sertifikasi namun hanya dipakai untuk belanja hal-hal yang berlebihan. Padahal, kontribusi mereka untuk dunia pendidikan masih minim.

“Saya sulit mengurus sertifikasi itu karena saya dianggap tidak berkompeten, karena saya seharusnya mengajar akuntansi. Sedangkan saya mengajar sesuai dengan pengalaman saya. Mau tidak mau saya pun mengajar mata pelajaran itu meski lebih banyak seni budaya,” ungkapnya.

Dirinya selalu memotivasi diri sendiri untuk tidak hanya berpikir soal hak dan kewajiban semata karena hanya akan meluruhkan semangat. Oleh karena itu, dia pun terus memupuk semangat untuk tetap berkarya, menggali ilmu sebanyak mungkin dan memperbanyak pengalaman.

“Jujur berat, tapi saya tetap bertahan dengan segala keterbatasan. Kamu minta kepada pemangku kepentingan, cobalah penghargaan apapun juga dilihat dari hasil karya dan kinerja. Bukan semata-mata “sertifikat” ,” tuturnya.

Dirinya tidak munafik jika materi juga dibutuhkan, tetapi ketika ia melihat anak didiknya berprestasi itu jauh lebih membanggakan.

Gepeng mengaku treyuh ketika melihat para siswanya berhasil membuat karya bukan karena dirinya melainkan karena motivasi mereka sendiri, entah menjadi sutradara, penulis naskah atau aktor yang mementaskan karyanya sendiri.

 February 14th, 2017   guru, Kabar Sekolah Add New

Leave a Reply